Mengapa Waktu Kiamat Dirahasiakan?

Oleh Saad Saefullah — Selasa 3 Zulhijjah 1434 / 8 October 2013 21:30

tanda tanda kiamat besar 490x326 Mengapa Waktu Kiamat Dirahasiakan?
MUNGKIN seseorang bertanya, “Apa hikmah dirahasiakannya waktu kiamat?” Jawabannya adalah bahwa disembunyikannya waktu kiamat berkaitan dengan kemaslahatan jiwa manusia.
Kiamat adalah hal gaib dan perkara besar yang diyakini orang akan terjadi, tetapi ia tidak tahu kapan kiamat akan datang secara tiba-tiba. Hal ini membuat seseorang selalu waspada dan menantinya terus menerus. Sayyid Quthb berkata :
“Sesuatu yang majhul (yang tidak diketahui) adalah unsur  utama dalam kehidupan manusia dan dalam pembentukan kejiwaan mereka. Dalam kehidupan mereka harus ada sesuatu majhul yang mereka cari. Seandainya segala sesuatu terbuka dan diketahui mereka, kegiatan mereka akan terhenti, dan kehidupan mereka akan hambar. Di balik yang majhul, manusia berjalan, lalu mereka berhati-hati, berharap, mencoba dan belajar.

Nasihat Al-Qur’an, Al-Sunnah, Atsar & Ulama (Taqiyuddin An-Nabhani, dll): Pelajarilah Bahasa Arab

kitab

Motivasi Mempelajari Bahasa Arab
Bagaimana pendapat saudara jika ada aktivis dakwah yang lebih giat mempelajari bahasa asing -selain bahasa arab- daripada mempelajari bahasa arab, padahal ia belum memahami bahasa arab dan tak ada upaya untuk mempelajari dan memahami bahasa arab? Tentu aneh, apa alasannya? Diantaranya sejumlah poin inti dan ringkas berikut ini:
:: Motivasi dari Al-Qur’an Al-Karim
Allah SWT berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Qur’an) dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (QS. Yusuf [12]: 2)
Dengan memahami bahasa arab (disamping ilmu tajwiid), seorang qari’ terbantu dalam menjaga lisan dari kesalahan membaca harakat ayat-ayat al-Qur’an (lahn), dan kesalahan dalam hal ini bisa menyimpangkan makna, dan perkara ini jelas tidak sepele.
Di antara contoh lahn ini, apabila seorang qari’ membaca surat al-Fatihah:
Pertama, Mengganti huruf ع dibaca madd pada kata (العالمين) yang berarti ‘Alam Semesta’, dengan huruf أ yang dibaca madd (الألمين) yang berarti ‘Penyakit’. Kedua, Menghilangkan bacaan tasydîd ي dan memendekkan bacaan ا pada kalimat (إياك). Yang seharusnya dibaca (إِيَّاكَ), diubah menjadi (إِيَكَ), mengubah makna yang tadinya kepada Allah, jadi kepada sinar matahari-Nya.
Al-‘Alim al-Syaikh al-Nawawi al-Bantani berfatwa dalam Syarh Sullam al-Munâjâh ketika membahas bacaan al-Fâtihah:
لَوْ تَرَكَ التَّشْدِيْدَ مِنْ إِيَّاكَ عَامِدًا عَالِمًا مَعْنَاهُ كَفَرَ
“Namun jika dia meninggalkan tasydîd dari kalimat Iyyâka, dengan sengaja (serta) mengetahui artinya, maka orang tersebut menjadi kafir.”

Umat Haram Tanpa Khalifah Lebih Dari Tiga Hari ?


Soal:
Ada riwayat tentang tenggat waktu tiga hari sebagai batas pengangkatan Khalifah. Lalu ada instruksi dari Khalifah Umar bin al-Khaththab untuk membunuh Ahlu asy-Syura yang tidak sepakat dengan Khalifah terpilih dalam tenggat tersebut. Bukankah riwayat tersebut lemah? Mengapa riwayat tersebut masih dijadikan hujjah dalam menentukan tenggat waktu?
Jawab:
Masalah ini sebelumnya telah diajukan kepada Amir Hizb melalui akun Facebook beliau dan telah mendapatkan jawaban sebagaimana mestinya. Namun, jawaban tersebut ternyata, sebagaimana ungkapan al-Qur’an, “lâ yusminu wa lâ yughnî min jû’” (tidak membuat gemuk dan kenyang) sang penanya. Penanya dan kawan-kawannya justru menyerang ulama, ahli ushul, fikih dan syaikh yang dikenal wara’ itu dengan kata-kata yang tidak pantas.
Karena itu, saya sendiri sebenarnya tidak tertarik untuk mengulas pertanyaan dan jawaban yang diberikan kepada penanya. Ini karena mereka sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. Mereka juga tidak ingin mendengarkan, apalagi mencari kebenaran; kemudian setelah itu mereka bertobat kepada Allah dan kembali ke jalan yang benar, dengan berjuang untuk menegakkan syariah dan Khilafah. Mereka malah mencari-cari alasan untuk tidak berjuang dengan berbagai dalih.
Namun, karena masalah ini mereka sebarkan di media sosial dengan tujuan untuk menciptakan keraguan (tasykîk) di dalam diri pejuang yang siang-malam berjuang untuk mengembalikan kemuliaan Islam dan umatnya, serta menarik dukungan umat yang semakin hari kian meningkat, maka jawaban ini menjadi penting. Sekali lagi, penting untuk barisan pejuang dan umat yang tengah berjuang, agar tidak ada lagi keraguan sedikitpun di dalam hati mereka.